
Pengunjung hari kedua lebih sepi dibandingkan hari pertama. Kesempatan ini saya gunakan untuk mengunjungi lomba lain, yaitu lomba poster. Saya bisa meninggalkan stand pameran karena saya telah memastikan bahwa ada orang yang bisa menjelaskan produk yang saya bawa ketika saya tidak ada.
Di lokasi pameran, banyak hal unik yang saya dapatkan dari peserta PKM yang posternya dilombakan. Beberapa hal unik tersebut antara lain:
Setelah puas berkeliling, saya kembali ke lokasi pameran. Kali ini bukan untuk menjaga stand. Namun untuk melihat-lihat stand dari universitas lain.
Pulang dari lokasi, kami istirahat sejenak di hotel. Beberapa jam kemudian, beberapa pria, termasuk saya melobi pihak rektorat agar bisa menggunakan bus kuning untuk jalan-jalan ke Lawang Sewu. Akhirnya kami pun berhasil membujuk pihak rektorat. Akhirnya hampir dari tiga puluh orang kontingen UI yang terdiri dari mahasiswa dan orang-orang rektorat berwisata ke Lawang Sewu. Sebelum sampai ke Lawang Sewu, kami cari makan malam.
Ternyata, rekan-rekan dari ITB juga melakukan hal yang sama. Namun, mereka pulang ketika kami datang.
Lawang Sewu adalah bangunan yang telah ada sejak zaman Belanda. Ketika masa pendudukan Belanda, bangunan ini berfungsi sebagai kantor kereta api. Namun, pada masa pendudukan Jepang, tempat ini dijadikan sebagai tempat penahanan para pejuang.
Tempat ini dinamakan Lawang Sewu karena jumlah pintunya sangat banyak, walaupun sebenarnya tidak mencapai seribu.
Di bagian bawah gedung ini, terdapat tempat penampungan air yang pada zaman Belanda dijadikan sistem pendingin ruangan semacam AC. Namun, pada masa penjajahan Jepang, tempat ini dijadikan penjara bawah tanah. Ada dua jenis penjara di sini. Pertama, penjara berdiri. Penjara ini terdiri dari beberapa sel. Tiap sel berukuran 1 meter x 1 meter x 2,5 meter. Tiap sel diisi 5 hingga 6 orang dengan posisi berdiri. Kedua, penjara jongkok yang tiap selnya berukuran 1 meter x 3 meter x 1 meter. Tiap sel berisi belasan orang dalam keadaan jongkok.
Lalu di sisi lain dari ruang bawah tanah ini ada ruang pemenggalan kepala. Selain itu, di lantai atas ada ruangan semacam aula yang digunakan sebagai tempat penyiksaan.
Tempat ini dijadikan sebagai lokasi pengambilan gambar film “Ayat-Ayat Cinta” yang berasal dari sebuah novel karya Habiburrahman El-Shirazi. Tempat yang menggunakan ruangan-ruangan di gedung Lawang Sewu adalah kamar Fahri, kamar Maria, tangga ketika Maria turun dari lantai atas, rumah sakit tempat Maria dirawat, penjara Fahri, dan tempat persidangan Fahri.
Tempat ini juga dijadikan sebagai lokasi uji nyali beberapa kali. Menurut tour guide yang menemani kami, di tempat ini sering muncul penampakan. Di lokasi ini juga dijual oleh-oleh khas yaitu berupa kaos dan stiker.
Akhirnya sekitar pukul 24.00 kami kembali ke hotel dan bersiap kembali untuk ke lokasi PIMNAS esok harinya.
Silakan tuliskan komentar Anda di bawah ini.