<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>M Arief Furqon &#187; Hikmah</title>
	<atom:link href="http://arieffurqon.com/category/hikmah/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://arieffurqon.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Tue, 26 Jan 2010 10:04:35 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.4</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Jari dan Kehidupan Manusia</title>
		<link>http://arieffurqon.com/2009/01/jari-dan-kehidupan-manusia/</link>
		<comments>http://arieffurqon.com/2009/01/jari-dan-kehidupan-manusia/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 05 Jan 2009 07:31:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Arief</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[ajal]]></category>
		<category><![CDATA[ibu jari]]></category>
		<category><![CDATA[jari]]></category>
		<category><![CDATA[jari kelingking]]></category>
		<category><![CDATA[jari manis]]></category>
		<category><![CDATA[jari telunjuk]]></category>
		<category><![CDATA[jari tengah]]></category>
		<category><![CDATA[kehidupan]]></category>
		<category><![CDATA[kehidupan manusia]]></category>
		<category><![CDATA[manusia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://arieffurqon.com/?p=228</guid>
		<description><![CDATA[Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Bismillahirrahmanirrahim
Beberapa hari yang lalu, saya mengikuti pertemuan pengajar baru di sebuah bimbingan belajar. Salah satu pengisi pertemuan tersebut menyisipkan intermezzo di sela-sela materi yang ia sampaikan ketika itu. Intermezzo yang ia sampaikan tentang jari dan kehidupan manusia.
Kehidupan manusia dari sejak lahir hingga tua dapat dianalogikan dengan jari-jari tangan kita. Perjalanan hidup tersebut dapat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh</p>
<p>Bismillahirrahmanirrahim</p>
<p><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-227" title="jari" src="http://arieffurqon.com/wp-content/uploads/2009/01/jari-150x150.jpg" alt="jari" width="150" height="150" />Beberapa hari yang lalu, saya mengikuti pertemuan pengajar baru di sebuah bimbingan belajar. Salah satu pengisi pertemuan tersebut menyisipkan <em>intermezzo</em> di sela-sela materi yang ia sampaikan ketika itu. <em>Intermezzo</em> yang ia sampaikan tentang jari dan kehidupan manusia.</p>
<p>Kehidupan manusia dari sejak lahir hingga tua dapat dianalogikan dengan jari-jari tangan kita. Perjalanan hidup tersebut dapat dianalogikan mulai dari jari kelingking, jari manis, jari tengah, jari telunjuk, dan ibu jari.</p>
<p><strong><span id="more-228"></span>Jari Kelingking</strong></p>
<p>Jari ini adalah jari yang ukurannya paling kecil dibandingkan dengan jari lain. Fungsinya pun mungkin tidak sesignifikan jario yang lain. Sebagian orang menggunakan jari ini untuk membersihkan kotoran hidung. Ada pula yang menggunakan untuk mengetik di <em>keyboard</em> komputer untuk beberapa tombol. Namun, tidak semua orang dapat menggunakan jari kelingkingnya untuk mengetik di <em>keyboard</em> komputer karena mungkin mereka lebih menyukai jari lain untuk mengerjakan tugas ini. Sementara itu, bagi pemain piano, tentu saja jari kelingking ini sangat membantu dalam memainkan piano agar menghadirkan suara yang harmonis. Begitu pula dengan gitaris.</p>
<p>Dalam alur kehidupan manusia, dapat jari kelingking ini dapat menjadi analogi bagi masa kanak-kanak, usia 0 hingga 10 tahun. Di masa tersebut, tidak banyak hal yang dapat dilakukan oleh seorang manusia yang masih anak-anak untuk mengubah dunia. Keseharian anak-anak hanya diisi dengan bermain dan belajar. Namun tanpa kehadiran anak-anak, kondisi dunia tentu tidak indah. Bayangkan jika dunia ini berisi orang dewasa semua.</p>
<p><strong>Jari Manis</strong></p>
<p>Setelah jari kelingking, sekarang kita alihkan perhatian kita ke jari di sebelahnya. Sesuai namanya, jari manis sering dikaitkan dengan hal yang manis-manis. Sebagian besar orang menyematkan cincin yang memiliki arti sangat penting dalam kehidupan mereka di jari ini.</p>
<p>Jari ini menganalogikan manusia berusia 10 hingga 20 tahun. Sebagian besar manusia akan mengalami begitu banyak hal yang indah pada usia tersebut. Di Indonesia, seseorang pada usia tersebut pada umumnya mengalami lulus dari SD, masuk SMP, lulus SMP, masuk SMA, lulus SMA, serta masuk Perguruan Tinggi. Selain itu, banyak pula orang yang mengalami cinta pertama pada lawan jenis di rentang usia ini. Hampir dipastikan pula bahwa setiap orang, baik pria maupun wanita, mengawali masa baligh di rentang usia ini.</p>
<p><strong>Jari Tengah</strong></p>
<p>Jari ini adalah jari yang paling tinggi di antara jari lain. Jari ini menganalogikan manusia pada rentang 20 hingga 30 tahun. Pada awal rentang usia ini, sebagian kecil manusia yang beruntung akan menjadi mahasiswa. Biasanya dan seharusnya, seorang mahasiswa itu akan menjadi orang yang kritis serta merasa paling benar. Terkadang karena terlalu merasa paling benar, mereka mengabaikan kepentingan orang lain. Seseorang pada usia tersebut akan mempersiapkan diri untuk terjun ke dunia yang sebenarnya.</p>
<p><strong>Jari Telunjuk</strong></p>
<p>Jari ini menganalogikan orang pada rentang usia 30 hingga 50 tahun. Sesuai dengan namanya, jari ini sering digunakan oleh kita untuk menunjuk sesuatu. Kebiasaan ini sering digunakan oleh pemimpin untuk memberikan instruksi kepada stafnya. Seharusnya orang pada rentang ini akan menjadi pemimpin di masing-masing bidang, setidaknya bagi seorang pria akan menjadi pemimpin di keluarga.</p>
<p><strong>Ibu Jari</strong></p>
<p>Jari ini adalah jari yang paling pendek dan gemuk dibandingkan jari lain. Jika jari ini diacungkan, akan memberi kesan yang baik, sip, oke, dan lain-lain. Sebagian orang menggunakan jari ini untuk menunjukkan arah.</p>
<p>Jari ini menganalogikan kehidupan manusia di atas usia 50 tahun. Seorang manusia di rentang usia ini seharusnya akan menjadi orang tua yang bijak menghadapi berbagai masalah kehidupan. Selain itu pada usia ini, sebagian orang baru mulai tersadar bahwa ajal telah dekat dengan dirinya.</p>
<p>Wallahu a&#8217;lam</p>
<p>Wassalam</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://arieffurqon.com/2009/01/jari-dan-kehidupan-manusia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hal yang Paling &#8230; di Dunia</title>
		<link>http://arieffurqon.com/2008/06/hal-yang-paling-di-dunia/</link>
		<comments>http://arieffurqon.com/2008/06/hal-yang-paling-di-dunia/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 08 Jun 2008 04:04:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Arief</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[amanah]]></category>
		<category><![CDATA[berat]]></category>
		<category><![CDATA[besar]]></category>
		<category><![CDATA[dekat]]></category>
		<category><![CDATA[Imam Ghazali]]></category>
		<category><![CDATA[jauh]]></category>
		<category><![CDATA[lidah]]></category>
		<category><![CDATA[nafsu]]></category>
		<category><![CDATA[ringan]]></category>
		<category><![CDATA[sholat]]></category>
		<category><![CDATA[tajam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://arieffurqon.com/?p=25</guid>
		<description><![CDATA[Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Bismillahiwwahmanirrahim
Imam Ghazali = &#8221; Apakah yang paling dekat dengan diri kita di dunia ini?
Murid 1 = &#8221; Orang tua &#8221;
Murid 2 = &#8221; Guru &#8221;
Murid 3 = &#8221; Teman &#8221;
Murid 4 = &#8221; Kaum kerabat &#8221;
Imam Ghazali = &#8221; Semua jawapan itu benar tetapi yang paling dekat dengan kita ialah MATI. Sebab itu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh</p>
<p>Bismillahiwwahmanirrahim</p>
<p>Imam Ghazali = &#8221; Apakah yang paling dekat dengan diri kita di dunia ini?<br />
Murid 1 = &#8221; Orang tua &#8221;<br />
Murid 2 = &#8221; Guru &#8221;<br />
Murid 3 = &#8221; Teman &#8221;<br />
Murid 4 = &#8221; Kaum kerabat &#8221;<br />
Imam Ghazali = &#8221; Semua jawapan itu benar tetapi yang paling dekat dengan kita ialah MATI. Sebab itu janji Allah bahawa setiap yang bernyawa pasti akan mati ( Surah Ali-Imran :185).</p>
<p><span id="more-25"></span>Imam Ghazali = &#8221; Apa yang paling jauh dari kita di dunia ini ?&#8221;<br />
Murid 1 = &#8221; Negeri Cina &#8221;<br />
Murid 2 = &#8221; Bulan &#8221;<br />
Murid 3 = &#8221; Matahari &#8221;<br />
Murid 4 = &#8221; Bintang-bintang &#8221;<br />
Iman Ghazali = &#8221; Semua jawaban itu benar tetapi yang paling benar adalah MASA LALU. Bagaimanapun kita, apapun kenderaan kita, tetap kita tidak akan dapat kembali ke masa yang lalu. Oleh sebab itu kita harus menjaga hari ini, hari esok dan hari-hari yang akan datang dengan perbuatan yang sesuai dengan ajaran Agama&#8221;.</p>
<p>Iman Ghazali = &#8221; Apa yang paling besar di dunia ini ?&#8221;<br />
Murid 1 = &#8221;  Gunung &#8221;<br />
Murid 2 = &#8221; Matahari &#8221;<br />
Murid 3 = &#8221; Bumi &#8221;<br />
Imam Ghazali = &#8221; Semua jawaban itu benar, tapi yang besar sekali adalah HAWA NAFSU (Surah Al A&#8217;raf: 179). Maka kita harus hati-hati dengan nafsu kita, jangan sampai nafsu kita membawa ke neraka.&#8221;</p>
<p>IMAM GHAZALI&#8221; Apa yang paling berat di dunia? &#8221;<br />
Murid 1 = &#8221; Baja &#8221;<br />
Murid 2 = &#8221; Besi &#8221;<br />
Murid 3 = &#8221; Gajah &#8221;<br />
Imam Ghazali = &#8221; Semua itu benar, tapi yang paling berat adalah MEMEGANG AMANAH (Surah Al-Azab : 72 ). Tumbuh-tumbuhan, binatang, gunung, dan malaikat semua tidak mampu ketika Allah SWT meminta mereka menjadi khalifah pemimpin) di dunia ini. Tetapi manusia dengan sombongnya berebut-rebut menyanggupi permintaan Allah SWT sehingga banyak manusia masuk ke neraka kerana gagal memegang amanah.&#8221;</p>
<p>Imam Ghazali = &#8221; Apa yang paling ringan di dunia ini ?&#8221;<br />
Murid 1 = &#8221; Kapas&#8221;<br />
Murid 2 = &#8221; Angin &#8221;<br />
Murid 3 = &#8221; Debu &#8221;<br />
Murid 4 = &#8221; Daun-daun&#8221;<br />
Imam Ghazali = &#8221; Semua jawaban kamu itu benar, tapi yang paling ringan sekali didunia ini adalah MENINGGALKAN SOLAT. Gara-gara pekerjaan kita atau urusan dunia, kita tinggalkan solat &#8221;</p>
<p>Imam Ghazali = &#8221; Apa yang paling tajam sekali di dunia ini? &#8221;<br />
Murid- Murid dengan serentak menjawab = &#8221; Pedang &#8221;<br />
Imam Ghazali = &#8221; Itu benar, tapi yang paling tajam sekali didunia ini<br />
adalah LIDAH MANUSIA. Kerana melalui lidah, manusia dengan mudahnya<br />
menyakiti hati dan melukai perasaan saudaranya sendiri &#8220;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://arieffurqon.com/2008/06/hal-yang-paling-di-dunia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Haruskah Mengambil Amanah Itu?</title>
		<link>http://arieffurqon.com/2008/06/haruskah-mengambil-amanah-itu/</link>
		<comments>http://arieffurqon.com/2008/06/haruskah-mengambil-amanah-itu/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 04 Jun 2008 10:37:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Arief</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[amanah]]></category>
		<category><![CDATA[pemimpin]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://arieffurqon.com/?p=16</guid>
		<description><![CDATA[Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Bismillahirrahmanirrahim
Tulisan ini terinspirasi dari perbincangan saya dengan seorang teman di KRL yang melaju membawa saya dan ratusan orang lainnya menuju Jakarta dari Depok.
Pada saat ini, tidak sedikit orang yang memahami bahwa menerima amanah, terutama menjadi pejabat, adalah hal yang sangat berat. Bahkan, di dalam Al-Quran, Allah SWT berfirman dalam surat Al-Ahzab ayat 72,

72. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh</p>
<p>Bismillahirrahmanirrahim</p>
<p>Tulisan ini terinspirasi dari perbincangan saya dengan seorang teman di KRL yang melaju membawa saya dan ratusan orang lainnya menuju Jakarta dari Depok.</p>
<p>Pada saat ini, tidak sedikit orang yang memahami bahwa menerima amanah, terutama menjadi pejabat, adalah hal yang sangat berat. Bahkan, di dalam Al-Quran, Allah SWT berfirman dalam surat Al-Ahzab ayat 72,</p>
<p style="text-align: center;"><img class="alignnone size-medium wp-image-17 aligncenter" title="QS Al-Ahzab ayat 72" src="http://arieffurqon.com/wp-content/uploads/2008/06/al-ahzab_72-300x53.png" alt="QS Al-Ahzab ayat 72" width="300" height="53" /></p>
<p><span class="gen">72. Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat<sup><strong></strong></sup> kepada  langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu  dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh  manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh, </span></p>
<p><span id="more-16"></span>Nah sekarang bagaimanakah sikap kita jika mendapatkan amanah untuk menjadi pemimpin? Sebaiknya jika masih ada orang yang lebih layak dari pada kita, sebaiknya serahkanlah amanah tersebut kepada mereka. Ketika kita menyerahkan kepada mereka, janganlah kita melepaskan begitu saja tanpa berkontribusi sedikitpun pada kepemimpinan tersebut. Bantulah hal yang dapat kita bantu.</p>
<p>Namun jika tidak ada orang lagi yang lebih baik daripada kita atau hanya kita yang memenuhi persyaratan mendapatkan amanah tersebut, janganlah kita takut untuk mengambil amanah tersebut sambil meminta pertolongan Allah dan meminta kontribusi rekan-rekan lainnya.</p>
<p>Wallahu a&#8217;lam</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://arieffurqon.com/2008/06/haruskah-mengambil-amanah-itu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jangan Seperti Monyet</title>
		<link>http://arieffurqon.com/2008/06/jangan-seperti-monyet/</link>
		<comments>http://arieffurqon.com/2008/06/jangan-seperti-monyet/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 02 Jun 2008 10:40:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Arief</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[angin]]></category>
		<category><![CDATA[ikhlas]]></category>
		<category><![CDATA[monyet]]></category>
		<category><![CDATA[sabar]]></category>
		<category><![CDATA[Sang Murobbi]]></category>
		<category><![CDATA[Ust. Rahmat Abdullah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://arieffurqon.com/?p=13</guid>
		<description><![CDATA[Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Bismillahirrahmanirrahim
Suatu ketika, terjadi perbincangan ringan nan penuh hikmah di antara seorang santri dengan Ustadz Rahmat Abdullah.
Santri :
Ustadz, gimana nih? Teman-teman udah pada kendor semangatnya. Kalau kita ketemu nggak pernah ngomongin pengajian lagi. Yang diomongin soal ekonomi…politik… Gimana dong, tadz?!
Ustadz Rahmat :
Akhi, antum mesti sabar dan ikhlas. Antum tahu monyet?
Santri :
Ya, tahu Ustadz. Tapi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh</p>
<p>Bismillahirrahmanirrahim</p>
<p><img class="alignright size-medium wp-image-14" title="monkey" src="http://arieffurqon.com/wp-content/uploads/2008/06/monkey.jpg" alt="monyet di pohon" width="200" height="200" />Suatu ketika, terjadi perbincangan ringan nan penuh hikmah di antara seorang santri dengan Ustadz Rahmat Abdullah.</p>
<blockquote><p><strong>Santri :</strong><br />
Ustadz, gimana nih? Teman-teman udah pada kendor semangatnya. Kalau kita ketemu nggak pernah ngomongin pengajian lagi. Yang diomongin soal ekonomi…politik… Gimana dong, tadz?!<br />
<strong>Ustadz Rahmat :</strong><br />
Akhi, antum mesti sabar dan ikhlas. Antum tahu monyet?<br />
<strong>Santri :</strong><br />
Ya, tahu Ustadz. Tapi bukan ane kan monyetnya?</p>
<p><span id="more-13"></span><strong>Ustadz Rahmat :</strong><br />
(Tersenyum) Ada ceritera, seekor monyet nangkring di pucuk pohon kelapa. Dia nggaksadar lagi diintip sama tiga angin gede. Angin Topan, Tornado sama Bahorok. Tiga angin itu rupanya pada ngomongin, siapa yang bisa paling cepet jatuhin si monyet dari pohon kelapa. Angin Topan bilang, dia cuma perlu waktu 45 detik. Angin Tornado nggak mau kalah, 30 detik. Angin Bahorok senyum ngeledek, 15 detik juga jatuh tuh monyet. Akhirnya satu persatu ketiga angin itu maju. Angin Topan duluan, dia tiup sekenceng-kencengnya, Wuuusss…. Merasa ada angin gede datang, si monyet langsung megang batang pohon kelapa. Dia pegang sekuat-kuatmya. Beberapa menit lewat, nggak jatuh-jatuh tuh monyet. Angin Topan pun nyerah. Giliran Angin Tornado. Wuuusss… Wuuusss… Dia tiup sekenceng-kencengnya. Ngga jatuh juga tuh monyet. Angin Tornado nyerah. Terakhir, angin Bahorok. Lebih kenceng lagi dia tiup. Wuuuss… Wuuuss… Wuuuss… Si monyet malah makin kenceng pegangannya. Nggak jatuh-jatuh. Ketiga angin gede itu akhirnya ngakuin, si monyet memang jagoan. Tangguh. Daya tahannya luar biasa.</p>
<p>Ngga lama, datang angin Sepoi-Sepoi. Dia bilang mau ikutan jatuhin si monyet. Diketawain sama tiga angin itu. Yang gede aja nggak bisa, apalagi yang kecil. Nggak banyak omong, angin Sepoi-Sepoi langsung niup ubun-ubun si monyet. Psssss… Enak banget. Adem… Seger… Riyep-riyep matanya si monyet. Nggak lama ketiduran dia. Lepas pegangannya. Jatuh tuh si monyet.</p>
<p>Nah, akhi. Tantangan dakwah seperti itu. Diuji dengan kesusahan… Dicoba dengan penderitaan… Insya Allah, kita kuat. Tapi jika diuji oleh Allah dengan kenikmatan, ini yang kita mesti hati-hati. Antum mesti sabar… ikhlas… Ingetin terus temen-temen antum, jangan seperti monyet&#8230;</p></blockquote>
<p>Dikutip dari <a title="blog sutradara Sang Murobbi" href="http://zul3.multiply.com/journal/item/13">blog sutradara <strong>Sang Murobbi</strong></a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://arieffurqon.com/2008/06/jangan-seperti-monyet/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
